Kadang manusia bangun pagi, mandi, berangkat bekerja, menyelesaikan tugas, pulang, makan, menatap layar ponsel, lalu tidur.
Keesokan harinya, semuanya terulang kembali.
Begitu terus.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Tahun demi tahun.
Dan tanpa disadari, sebagian besar hidup telah lewat.
Bukan karena hidup terlalu cepat.
Tetapi karena manusia terlalu jarang benar-benar hadir di dalamnya.
Ada sebuah kondisi yang jarang disadari banyak orang.
Tubuh bergerak.
Pikiran bekerja.
Aktivitas berjalan.
Namun kesadaran seolah tertinggal jauh di belakang.
Seseorang tetap tersenyum ketika bertemu orang lain.
Tetap menjawab pertanyaan.
Tetap menjalankan rutinitas.
Tetapi jika ditanya,
“Apa yang sebenarnya sedang kau rasakan?”
Ia mungkin tidak tahu jawabannya.
Bukan karena tidak memiliki perasaan.
Melainkan karena sudah terlalu lama tidak mendengarkannya.
Auto pilot bukanlah keadaan ketika seseorang tidak melakukan apa-apa.
Justru sebaliknya.
Sering kali manusia paling terjebak dalam auto pilot ketika hidupnya terlihat sangat sibuk.
Jadwal penuh.
Target banyak.
Aktivitas padat.
Tetapi semuanya dijalani seperti mesin.
Tanpa kesadaran.
Tanpa refleksi.
Tanpa pertanyaan.
Ironisnya, masyarakat modern sering memuji kondisi ini.
Orang yang terus sibuk dianggap produktif.
Orang yang terus bergerak dianggap sukses.
Orang yang selalu memiliki agenda dianggap penting.
Padahal tidak semua pergerakan adalah kemajuan.
Tidak semua kesibukan adalah kehidupan.
Dan tidak semua produktivitas membawa seseorang lebih dekat kepada dirinya sendiri.
Banyak manusia yang sebenarnya tidak hidup.
Mereka hanya mengulangi pola.
Bangun.
Bekerja.
Menghasilkan uang.
Mencari hiburan.
Tidur.
Lalu mengulanginya lagi.
Mungkin selama sepuluh tahun.
Mungkin selama dua puluh tahun.
Mungkin sepanjang hidup.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika seseorang mulai merasa nyaman dengan keadaan itu.
Karena auto pilot memiliki sifat yang menipu.
Ia membuat segala sesuatu terasa normal.
Padahal belum tentu sehat.
Ia membuat seseorang merasa baik-baik saja.
Padahal di dalam dirinya ada banyak pertanyaan yang belum pernah benar-benar dijawab.
Pernahkah kau tiba-tiba berhenti sejenak di tengah aktivitas?
Lalu muncul pertanyaan sederhana:
“Sebenarnya aku sedang menuju ke mana?”
Pertanyaan itu sering datang diam-diam.
Ketika perjalanan pulang.
Ketika menatap langit malam.
Ketika duduk sendirian setelah semua kesibukan selesai.
Dan sering kali, pertanyaan itu segera dibungkam.
Dengan pekerjaan.
Dengan hiburan.
Dengan media sosial.
Dengan segala sesuatu yang membuat manusia tidak perlu berhadapan dengan dirinya sendiri.
Ada alasan mengapa sebagian orang merasa gelisah ketika berada dalam kesunyian.
Karena kesunyian mematikan auto pilot.
Dalam kesunyian, tidak ada notifikasi.
Tidak ada percakapan.
Tidak ada gangguan.
Yang tersisa hanyalah diri sendiri.
Dan bagi banyak orang, itu adalah pertemuan yang paling sulit.
Auto pilot bukan hanya tentang rutinitas.
Ia juga muncul dalam cara berpikir.
Kita mengulang keyakinan yang diwariskan.
Mengulang kebiasaan yang tidak pernah dipertanyakan.
Mengulang pola hubungan yang sama.
Mengulang kesalahan yang sama.
Lalu bertanya mengapa hidup tidak pernah berubah.
Padahal yang berubah hanya kalender.
Bukan kesadaran.
Mungkin itulah sebabnya sebagian manusia mengalami titik-titik krisis dalam hidupnya.
Kehilangan pekerjaan.
Kegagalan.
Perpisahan.
Kematian orang yang dicintai.
Atau peristiwa lain yang mengguncang kenyamanan.
Peristiwa-peristiwa itu sering kali terasa menyakitkan.
Namun kadang justru menjadi alarm yang membangunkan seseorang dari tidur panjangnya.
Kesadaran sering lahir bukan ketika hidup berjalan sempurna.
Tetapi ketika sesuatu yang selama ini dianggap pasti tiba-tiba runtuh.
Karena pada saat itulah manusia mulai bertanya.
Mulai melihat.
Mulai mendengar.
Mulai hadir.
Barangkali hidup yang baik bukanlah hidup yang selalu sibuk.
Bukan pula hidup yang selalu produktif.
Melainkan hidup yang dijalani dengan sadar.
Sadar ketika berjalan.
Sadar ketika berbicara.
Sadar ketika marah.
Sadar ketika mencintai.
Sadar ketika kehilangan.
Sadar bahwa waktu sedang berlalu.
Dan sadar bahwa hidup ini tidak akan berlangsung selamanya.
Karena pada akhirnya, tragedi terbesar bukanlah mati terlalu cepat.
Melainkan hidup terlalu lama tanpa pernah benar-benar terjaga.
Lalu suatu hari menyadari bahwa sebagian besar hidup telah berlalu.
Dan selama itu pula, kita hanya menjadi penumpang di dalamnya.